Penyakit Akibat Kerja: Kenali Risiko, Cegah Sejak Dini
Setiap pekerjaan memiliki risiko, termasuk risiko terhadap kesehatan. Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah gangguan kesehatan yang muncul karena aktivitas, bahan, alat, atau lingkungan kerja. Masalah ini sering kali diabaikan karena dampaknya baru dirasakan setelah bertahun-tahun. Padahal, menurut data International Labour Organization (ILO, 2018), lebih dari 2,78 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit akibat kerja, dan dua pertiganya terjadi di Asia.
Jenis Penyakit Akibat Kerja yang Sering Terjadi
Beberapa penyakit yang umum dialami pekerja di berbagai industri antara lain:
- Gangguan pernapasan seperti ISPA, sesak napas, batuk kronis, hingga penurunan kapasitas paru. Penyakit ini sering ditemukan pada pekerja mebel, penggilingan padi, hingga industri batik akibat paparan debu dan asap.
- Penyakit kulit (dermatitis) berupa gatal, kemerahan, kulit kering, hingga iritasi, biasanya karena kontak langsung dengan bahan kimia, pewarna, lem, atau pernis.
- Cedera fisik akibat paparan panas, penggunaan alat tajam, atau mesin tanpa pengaman. Studi pada industri tahu pong menunjukkan 42,86% risiko kerja berada pada kategori sangat tinggi, misalnya dari proses perebusan dan penggorengan
Penyebab Utama
PAK umumnya disebabkan oleh:
- Debu berlebih di tempat kerja (misalnya serbuk kayu, debu padi).
- Paparan bahan kimia berbahaya seperti toluena pada industri sepatu, zat pewarna batik, hingga merkuri pada kosmetik.
- Suhu kerja ekstrem yang bisa memicu kelelahan, dehidrasi, atau luka bakar.
- Posisi kerja tidak ergonomis yang menyebabkan nyeri punggung, leher, atau kelelahan kronis.
Zat berbahaya tersebut masuk ke tubuh melalui pernapasan (udara yang tercemar debu/gas) atau kulit (kontak langsung dengan bahan kimia).
Baca Juga : Fit to Work (Kelaikan Kerja) untuk Pekerja : Pentingnya Memastikan Kesiapan Fisiki dan Mental di Dunia Kerja
Upaya Pencegahan
Risiko PAK dapat diminimalkan dengan:
- Rekayasa teknik, seperti penambahan pengaman mesin dan ventilasi yang baik.
- Pengendalian administratif, misalnya SOP kerja dan pembatasan waktu paparan.
- Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD), seperti masker, sarung tangan, dan pelindung mata.
Seperti disampaikan oleh Rawis (2016), rekayasa teknik dan penerapan aturan keselamatan yang konsisten mampu menekan risiko penyakit akibat kerja secara signifikan
Penyakit Akibat Kerja adalah ancaman nyata yang bisa menurunkan kesehatan pekerja dan produktivitas perusahaan. Dengan mengenali risiko, menggunakan APD, dan menerapkan K3, PAK dapat dicegah sejak dini. Segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Okupasi untuk mengetahui risiko kesehatan kerja dan pemeriksaan kelaikan kerja di perusahaan Anda.
Daftar Pustaka
- Zukhrufuz Zaman, M., dkk. (2022). Jenis Penyakit Akibat Kerja, Penyebabnya, dan Mekanisme Penyebaran dalam Industri. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(4).
- Patradhiani, R., dkk. (2019). Identifikasi dan Pengendalian Risiko Penyebab Penyakit Akibat Kerja pada Industri Tahu Pong Goreng Palembang. Integrasi Jurnal Ilmiah Teknik Industri, 2(5).
- Rawis, T.D. (2016). Perencanaan Biaya K3 pada Proyek Konstruksi Bangunan, 4(4).
- Laelasari, E., dkk. (2018). Penggunaan Lem Sepatu dan Gangguan Kesehatan Pekerja. Jurnal Ekologi Kesehatan, 17(2).
Jadwal Dokter Spesialis Okupasi IHC RS Lavalette klik disini
Hubungi Kami