Nyeri Tumit Tak Kunjung Sembuh? Kenali Tindakan Endoscopic Debridement untuk Plantar Fasciitis
Nyeri pada tumit yang muncul saat pertama kali melangkah di pagi hari sering dianggap sebagai keluhan biasa. Sebagian orang memilih beristirahat, mengurangi aktivitas, atau mengonsumsi obat pereda nyeri. Namun, bagaimana jika keluhan tersebut tidak kunjung membaik selama berbulan-bulan?
Salah satu penyebab tersering nyeri tumit kronis adalah plantar fasciitis, yaitu peradangan dan degenerasi pada plantar fascia, jaringan ikat tebal yang menghubungkan tulang tumit dengan jari-jari kaki. Kondisi ini banyak ditemukan pada pelari, atlet, pekerja yang berdiri lama, hingga individu dengan berat badan berlebih. Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS, 2024), lebih dari 90% penderita plantar fasciitis sebenarnya dapat membaik dengan terapi konservatif, sedangkan tindakan operasi hanya dipertimbangkan pada kasus yang menetap setelah terapi non-operatif dilakukan secara optimal.
Salah satu teknik operasi modern yang kini semakin banyak digunakan adalah Endoscopic Debridement disertai Plantar Fascia Release dan reseksi osteofit. Teknik ini menggunakan kamera berukuran kecil sehingga tindakan menjadi lebih minimal invasif dibandingkan operasi terbuka.
Apa Itu Plantar Fasciitis?
Plantar fasciitis merupakan kondisi ketika plantar fascia mengalami iritasi, peradangan, bahkan perubahan degeneratif akibat tekanan berulang dalam jangka panjang. Jaringan ini berfungsi menopang lengkung telapak kaki sekaligus menyerap beban ketika seseorang berjalan maupun berlari.
Menurut AAOS (2024), plantar fasciitis merupakan salah satu penyebab nyeri tumit paling sering dijumpai pada praktik ortopedi. Risiko meningkat pada orang yang aktif berolahraga, memiliki indeks massa tubuh tinggi, maupun pekerjaan yang mengharuskan berdiri dalam waktu lama.
Gejala Plantar Fasciitis
Beberapa gejala yang sering dirasakan antara lain:
- Nyeri tajam di bagian bawah tumit
- Nyeri paling berat saat pertama kali berdiri setelah bangun tidur
- Nyeri muncul setelah duduk lama
- Tumit terasa sakit setelah berjalan jauh atau berlari
- Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu akibat rasa nyeri
Pada kondisi kronis, dapat muncul calcaneal spur (heel spur atau osteofit) yang merupakan pertumbuhan tulang pada bagian bawah tumit. Meski demikian, AAOS menegaskan bahwa heel spur bukan penyebab utama nyeri plantar fasciitis, melainkan perubahan yang dapat menyertai kondisi kronis tersebut.
Kapan Plantar Fasciitis Memerlukan Operasi?
Sebagian besar pasien akan membaik melalui terapi konservatif seperti:
- peregangan plantar fascia dan tendon Achilles,
- fisioterapi,
- penggunaan alas kaki yang sesuai,
- orthotic,
- obat antiinflamasi,
- modifikasi aktivitas,
- maupun injeksi tertentu bila diperlukan.
Namun apabila keluhan tetap berlangsung selama 6–12 bulan meskipun terapi konservatif telah dilakukan secara optimal, dokter ortopedi dapat mempertimbangkan tindakan operasi minimal invasif. Hal ini juga didukung oleh rekomendasi AAOS yang menyatakan bahwa operasi merupakan pilihan terakhir setelah terapi non-bedah gagal memberikan hasil yang memadai.
Mengenal Tindakan Endoscopic Debridement pada Plantar Fasciitis
Menurut penjelasan dr. Ananto Satya Pradana, Sp.OT (Subspesialis Kaki dan Pergelangan Kaki), tindakan yang dilakukan pada kasus plantar fasciitis kronis menggunakan teknik minimal invasive dengan bantuan kamera endoskopi.
Pada prosedur ini, kamera kecil dimasukkan melalui sayatan yang sangat kecil sehingga seluruh tindakan dapat dilakukan dengan panduan visual secara langsung pada monitor operasi. Dengan teknik tersebut, dokter tidak memerlukan sayatan yang besar sehingga jaringan sehat di sekitar tumit dapat dipertahankan semaksimal mungkin.
Bagaimana Prosedur Operasi Dilakukan?
Secara umum prosedur terdiri dari beberapa tahapan berikut.
1. Endoscopic Debridement
Dokter memasukkan kamera endoskopi ke ruang operasi melalui sayatan kecil.
Selanjutnya dilakukan debridement, yaitu membersihkan jaringan yang mengalami peradangan maupun jaringan degeneratif sehingga struktur plantar fascia dapat terlihat dengan jelas. Pada prosedur ini digunakan alat khusus yang disebut shaver untuk membersihkan jaringan tersebut.
2. Plantar Fascia Release
Setelah jaringan terlihat jelas, dokter melakukan partial plantar fascia release, yaitu melepaskan sebagian serabut plantar fascia yang mengalami tarikan berlebihan.
Menurut dr. Ananto, tujuan tindakan ini adalah mengurangi tarikan pada plantar fascia sehingga rasa nyeri berkurang. Tindakan dilakukan menggunakan alat ablasi khusus dengan visualisasi endoskopi secara langsung.
Prinsip ini juga sesuai dengan teknik yang dijelaskan oleh Papathanasiou dkk. (2023) yang menyatakan bahwa endoscopic plantar fascia release memberikan hasil klinis yang baik dengan waktu pemulihan lebih cepat dibandingkan teknik operasi terbuka pada pasien yang memenuhi indikasi operasi.
3. Reseksi Osteofit (Heel Spur)
Pada beberapa pasien ditemukan adanya osteofit atau pertumbuhan tulang di bawah tumit.
Melalui kamera endoskopi, dokter dapat melakukan reseksi atau pengikisan osteofit menggunakan alat khusus hingga tonjolan tulang tersebut berkurang. Setelah tindakan selesai, hasil evaluasi menunjukkan tonjolan tulang yang sebelumnya tampak pada pemeriksaan telah berhasil direseksi.
Mengapa Operasi Endoskopi Menjadi Pilihan?
Dibandingkan operasi terbuka, teknik endoskopi memiliki beberapa keunggulan, yaitu:
- Sayatan lebih kecil
- Kerusakan jaringan lebih minimal
- Nyeri pascaoperasi lebih ringan
- Risiko gangguan jaringan lunak lebih rendah
- Pemulihan aktivitas umumnya lebih cepat
- Bekas luka lebih kecil
Cho dkk. (2024) menjelaskan bahwa teknik nano-arthroscopic plantar fascia release memungkinkan visualisasi langsung dengan trauma jaringan minimal serta berpotensi mempercepat pemulihan pasien.
Selain itu, Ward dkk. (2022) melalui tinjauan sistematis terhadap 978 kaki melaporkan bahwa tindakan Endoscopic Plantar Fascia Release (EPFR) memberikan perbaikan bermakna terhadap fungsi dan nyeri pada pasien plantar fasciitis kronis yang tidak membaik dengan terapi konservatif. Meski demikian, tindakan tetap harus dipilih secara selektif karena masih terdapat risiko komplikasi meskipun relatif rendah.
Bagaimana Proses Pemulihan Setelah Operasi?
Pada tindakan yang dijelaskan oleh dr. Ananto, operasi hanya memerlukan dua sayatan kecil, masing-masing satu pada sisi dalam dan satu pada sisi luar tumit, yang kemudian ditutup dengan jahitan sederhana.
Secara umum pasien akan menjalani:
- kontrol luka operasi,
- penggunaan alas kaki khusus sesuai anjuran dokter,
- latihan peregangan secara bertahap,
- fisioterapi bila diperlukan,
- peningkatan aktivitas secara bertahap.
AAOS juga merekomendasikan periode protected weight-bearing setelah operasi agar proses penyembuhan jaringan berlangsung optimal.
Apakah Semua Heel Spur Harus Diangkat?
Tidak selalu.
Menurut AAOS (2024), keberadaan heel spur tidak selalu menjadi penyebab utama nyeri plantar fasciitis. Oleh karena itu, pengangkatan osteofit dilakukan berdasarkan pertimbangan dokter selama operasi apabila dinilai berkontribusi terhadap keluhan pasien atau mengganggu tindakan yang dilakukan.
Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter Ortopedi?
Segera lakukan pemeriksaan apabila Anda mengalami:
- nyeri tumit lebih dari 3 bulan,
- nyeri tidak membaik setelah istirahat,
- kesulitan berjalan,
- aktivitas olahraga terganggu,
- nyeri semakin berat meskipun sudah menjalani terapi.
Evaluasi menyeluruh diperlukan agar dokter dapat menentukan apakah terapi konservatif masih efektif atau sudah diperlukan tindakan operasi minimal invasif.
Plantar fasciitis merupakan penyebab paling umum nyeri tumit yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebagian besar pasien dapat pulih melalui terapi konservatif, tetapi pada kasus kronis yang tidak membaik setelah berbagai pengobatan, tindakan Endoscopic Debridement, Plantar Fascia Release, dan reseksi osteofit dapat menjadi pilihan terapi.
Melalui teknik minimal invasif, dokter dapat membersihkan jaringan yang mengalami peradangan, mengurangi tarikan pada plantar fascia, serta mengatasi osteofit bila diperlukan dengan sayatan yang sangat kecil. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prosedur ini mampu memberikan perbaikan nyeri dan fungsi yang baik pada pasien yang tepat, dengan pemulihan yang umumnya lebih cepat dibandingkan operasi terbuka. Namun, keputusan untuk menjalani operasi harus didasarkan pada hasil evaluasi dokter spesialis ortopedi setelah terapi non-operatif tidak memberikan hasil yang memadai.
