Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma): Jangan Abaikan Pembengkakan yang Tak Kunjung Hilang

Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma): Jangan Abaikan Pembengkakan yang Tak Kunjung Hilang

Pembengkakan kelenjar getah bening sering dianggap sebagai tanda infeksi biasa. Padahal, pada sebagian kasus kondisi tersebut dapat menjadi gejala awal kanker kelenjar getah bening atau limfoma.

Limfoma merupakan salah satu jenis kanker darah yang menyerang sistem limfatik, yaitu bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Penyakit ini sering berkembang tanpa gejala yang khas pada tahap awal sehingga banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

Padahal, diagnosis dan pengobatan sejak dini dapat meningkatkan keberhasilan terapi sekaligus mencegah komplikasi yang lebih serius. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali penyebab, faktor risiko, gejala, hingga pilihan pengobatan limfoma.

"Limfoma merupakan kanker yang berasal dari limfosit, yaitu sel darah putih yang berperan penting dalam sistem imun tubuh. Deteksi dini menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan pengobatan." — National Cancer Institute (2024)


Apa Itu Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma)?

Limfoma adalah kanker yang berkembang pada limfosit, yaitu salah satu jenis sel darah putih yang berfungsi melawan infeksi. Sel limfosit terdapat di berbagai bagian tubuh, seperti:

  • Kelenjar getah bening
  • Limpa
  • Sumsum tulang
  • Timus
  • Tonsil
  • Saluran pencernaan

Ketika terjadi perubahan atau mutasi pada DNA limfosit, sel tersebut dapat berkembang secara tidak terkendali dan membentuk kanker.

Secara umum, limfoma dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu:

1. Hodgkin Lymphoma

Hodgkin lymphoma merupakan jenis limfoma yang lebih jarang ditemukan. Penyakit ini umumnya menyerang remaja hingga dewasa muda berusia 15–35 tahun, namun dapat juga muncul pada usia di atas 55 tahun.

Ciri khas Hodgkin lymphoma adalah ditemukannya sel Reed-Sternberg saat pemeriksaan jaringan biopsi.

2. Non-Hodgkin Lymphoma (NHL)

Non-Hodgkin lymphoma merupakan jenis limfoma yang paling sering dijumpai. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia, meskipun risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.

NHL terdiri atas lebih dari 60 subtipe dengan karakteristik dan tingkat keganasan yang berbeda-beda.


Apa Penyebab Kanker Kelenjar Getah Bening?

Hingga saat ini penyebab pasti limfoma belum diketahui secara pasti. Namun para ahli meyakini bahwa penyakit ini terjadi akibat kombinasi perubahan genetik dan faktor lingkungan.

1. Mutasi Genetik

Sebagian besar limfoma diawali oleh perubahan atau mutasi DNA pada limfosit.

Mutasi tersebut menyebabkan sel kehilangan kemampuan mengatur pertumbuhan sehingga terus berkembang tanpa terkendali dan tidak mengalami kematian sel secara normal.

Menurut American Cancer Society (2024), sebagian besar mutasi ini terjadi secara spontan dan bukan diturunkan dari orang tua.

2. Infeksi Virus dan Bakteri

Beberapa infeksi diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya limfoma, antara lain:

  • Epstein-Barr Virus (EBV)
  • Human Immunodeficiency Virus (HIV)
  • Human T-cell Leukemia Virus (HTLV-1)
  • Helicobacter pylori

EBV merupakan salah satu virus yang paling banyak dikaitkan dengan beberapa tipe limfoma karena dapat memengaruhi pertumbuhan limfosit.

"Infeksi virus Epstein-Barr diketahui berperan pada sebagian kasus limfoma melalui mekanisme yang memengaruhi pertumbuhan dan perubahan genetik sel limfosit." — Cao dkk., 2021

3. Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh

Orang dengan sistem imun yang lemah memiliki risiko lebih tinggi mengalami limfoma, misalnya karena:

  • HIV/AIDS
  • Penggunaan obat imunosupresan setelah transplantasi organ
  • Kelainan imun bawaan

Faktor Risiko Limfoma

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami limfoma antara lain:

Bertambahnya Usia

Risiko Non-Hodgkin lymphoma meningkat pada usia lanjut, sedangkan Hodgkin lymphoma lebih sering ditemukan pada usia muda.

Jenis Kelamin

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa limfoma lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan wanita.

Riwayat Keluarga

Memiliki anggota keluarga dengan riwayat limfoma atau kanker darah sedikit meningkatkan risiko, meskipun sebagian besar penderita limfoma tidak memiliki riwayat keluarga.

Penyakit Autoimun

Penyakit seperti:

  • Sjögren Syndrome
  • Hashimoto Thyroiditis
  • Rheumatoid Arthritis
  • Lupus

dapat meningkatkan risiko karena sistem kekebalan tubuh terus mengalami aktivasi dalam jangka panjang.

Paparan Radiasi dan Bahan Kimia

Paparan radiasi dosis tinggi maupun bahan kimia tertentu diduga turut meningkatkan risiko terjadinya limfoma.


Gejala Kanker Kelenjar Getah Bening yang Perlu Diwaspadai

Pada tahap awal, limfoma sering tidak menimbulkan gejala yang khas.

Namun, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau selangkangan tanpa rasa nyeri
  • Demam tanpa penyebab yang jelas
  • Keringat malam berlebihan
  • Berat badan turun lebih dari 10% dalam waktu enam bulan tanpa sebab yang jelas
  • Mudah lelah
  • Nafsu makan menurun
  • Gatal di seluruh tubuh
  • Batuk berkepanjangan atau sesak napas bila kelenjar membesar di dada

Gejala demam, keringat malam, dan penurunan berat badan dikenal sebagai B symptoms, yang sering menjadi indikator penting dalam menentukan stadium penyakit.


Bagaimana Dokter Mendiagnosis Limfoma?

Diagnosis limfoma tidak dapat ditegakkan hanya melalui pemeriksaan fisik.

Dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut.

Pemeriksaan Fisik

Dokter akan memeriksa adanya pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak, maupun selangkangan.

Biopsi Kelenjar Getah Bening

Biopsi merupakan standar emas (gold standard) dalam menegakkan diagnosis limfoma. Melalui prosedur ini, jaringan akan diambil untuk diperiksa di bawah mikroskop guna mengetahui jenis limfoma yang dialami pasien.

Sebuah laporan kasus oleh Liu dkk. (2026) menegaskan bahwa pemeriksaan histopatologi melalui biopsi sangat penting karena pembesaran kelenjar getah bening tidak selalu berarti penyebaran kanker ataupun infeksi. Diagnosis yang tepat hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan jaringan.

Pemeriksaan Darah

Tes darah dilakukan untuk menilai kondisi umum pasien, fungsi organ, serta membantu menentukan penanganan selanjutnya.

Pemeriksaan CT Scan dan PET Scan

Pemeriksaan pencitraan digunakan untuk mengetahui:

  • Lokasi limfoma
  • Luas penyebaran
  • Stadium penyakit
  • Respons terhadap pengobatan
  • Pengobatan Kanker Limfoma

Pilihan terapi akan disesuaikan dengan jenis limfoma, stadium penyakit, usia, dan kondisi kesehatan pasien.

1. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan terapi utama pada sebagian besar kasus limfoma menggunakan obat-obatan yang bekerja menghancurkan sel kanker.

2. Radioterapi

Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker, terutama pada limfoma stadium awal atau yang masih terbatas pada satu area.

3. Imunoterapi

Imunoterapi membantu meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali dan menghancurkan sel kanker.

Salah satu terapi yang banyak digunakan adalah antibodi monoklonal seperti rituximab pada beberapa jenis Non-Hodgkin lymphoma.

4. Targeted Therapy

Terapi target bekerja secara spesifik menyerang molekul tertentu yang mendukung pertumbuhan sel kanker sehingga efek samping terhadap sel normal relatif lebih kecil dibandingkan kemoterapi konvensional.

5. Transplantasi Sel Punca (Stem Cell Transplant)

Pada kasus tertentu, terutama limfoma yang kambuh atau tidak memberikan respons terhadap terapi awal, dokter dapat merekomendasikan transplantasi sel punca untuk menggantikan sel pembentuk darah yang rusak.


Apakah Limfoma Bisa Disembuhkan?

Peluang kesembuhan limfoma cukup baik apabila ditemukan sejak stadium awal dan ditangani dengan terapi yang sesuai.

Perkembangan teknologi diagnostik, kemoterapi, imunoterapi, hingga terapi target telah meningkatkan angka harapan hidup pasien limfoma dalam beberapa dekade terakhir.

Karena itu, jangan abaikan pembengkakan kelenjar getah bening yang berlangsung lebih dari dua hingga empat minggu, terutama jika disertai demam, penurunan berat badan, atau keringat malam.


Kapan Harus ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan apabila Anda mengalami:

  • Pembengkakan kelenjar getah bening yang tidak kunjung mengecil
  • Demam berulang tanpa penyebab yang jelas
  • Berat badan turun drastis
  • Keringat malam berlebihan
  • Kelelahan yang tidak membaik
  • Batuk atau sesak napas yang berlangsung lama


Diagnosis sejak dini memberikan peluang pengobatan yang lebih optimal sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.


Apabila Anda mengalami gejala yang mengarah pada limfoma atau memiliki faktor risiko tertentu, jangan menunda pemeriksaan. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis penyakit dalam di IHC RS Lavalette untuk mendapatkan evaluasi menyeluruh, diagnosis yang akurat, serta penanganan sesuai kondisi Anda.

Semakin cepat limfoma terdeteksi, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup yang lebih baik.


Jadwal Dokter Spesialis Penyakit Dalam IHC RS Lavalette


Ditinjau Oleh

dr. Ida Ayu Putri Astiti, Sp.Onk.Rad