Di Balik Serunya Sound Horeg, Ada Risiko Gangguan Pendengaran

Di Balik Serunya Sound Horeg, Ada Risiko Gangguan Pendengaran

Beberapa waktu terakhir, fenomena sound horeg semakin marak ditemui di berbagai acara masyarakat seperti pesta pernikahan, hajatan, arak-arakan, hingga hiburan rakyat. Sound horeg merujuk pada penggunaan sound system berdaya tinggi dengan volume dan dentuman bass ekstrem yang menciptakan suasana meriah dan menggema.

Meski dianggap sebagai hiburan, paparan suara keras yang berlebihan ternyata dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan telinga, bahkan berisiko menyebabkan gangguan pendengaran permanen jika terjadi berulang dan tanpa perlindungan.


Apa Itu Sound Horeg?

Sound horeg adalah istilah populer di masyarakat, khususnya di Jawa Timur, untuk menggambarkan sistem audio dengan intensitas suara sangat tinggi, sering kali melebihi 85 desibel (dB).

Menurut World Health Organization (WHO, 2018), ambang batas kebisingan yang masih aman bagi telinga manusia adalah maksimal 85 dB dalam waktu terbatas. Sementara itu, sound horeg kerap mencapai 100–130 dB, level yang berbahaya meski hanya terpapar dalam waktu singkat.

Ciri khas sound horeg tidak hanya terletak pada volume suara, tetapi juga getaran bass frekuensi rendah yang terasa hingga ke dada dan tubuh, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa telinga mereka sedang mengalami tekanan berlebih.


Dampak Sound Horeg terhadap Kesehatan Telinga

Paparan suara keras dapat merusak sel rambut halus di koklea, bagian telinga dalam yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi sinyal ke otak. Kerusakan pada bagian ini bersifat irreversibel (tidak dapat dipulihkan).

Beberapa gangguan telinga yang dapat muncul akibat sound horeg antara lain:

1. Tinnitus (Telinga Berdenging)

Tinnitus ditandai dengan suara berdenging, mendesis, atau berdesir di telinga meski berada di tempat sunyi. Menurut Riadie (2020), tinnitus sering menjadi tanda awal kerusakan pendengaran akibat kebisingan.

2. Noise-Induced Hearing Loss (NIHL)

NIHL adalah penurunan kemampuan pendengaran secara perlahan akibat paparan suara keras berulang. WHO (2018) menyebutkan bahwa NIHL merupakan salah satu penyebab gangguan pendengaran paling umum dan sering tidak disadari sejak dini.

3. Nyeri dan Tekanan pada Telinga

Getaran suara ekstrem dapat menimbulkan rasa nyeri, penuh, hingga tekanan kuat pada gendang telinga, terutama jika berada dekat dengan sumber speaker.

4. Risiko Kerusakan Pendengaran Permanen

Jika paparan terjadi terus-menerus tanpa perlindungan, kerusakan saraf pendengaran dapat bersifat menetap dan menurunkan kualitas hidup.

Anak-anak dan remaja lebih rentan, karena struktur telinga mereka belum sepenuhnya matang dan lebih sensitif terhadap kebisingan (WHO, 2018).


Dampak Tambahan bagi Kesehatan THT

Selain telinga, suara keras juga dapat berdampak pada sistem THT secara keseluruhan, seperti:

  • Tenggorokan terasa kering atau sakit akibat harus berbicara lebih keras
  • Ketegangan pita suara
  • Ketidaknyamanan di area hidung akibat tekanan dan getaran udara

Paparan kebisingan juga berkaitan dengan stres, gangguan tidur, dan peningkatan tekanan darah (Fink, 2017; Nasution, 2019).


Siapa yang Paling Berisiko Terkena Dampak Sound Horeg?

Beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain:

  • Anak-anak dan remaja
  • Lansia
  • Pekerja hiburan, event organizer, kru sound system
  • Individu dengan riwayat gangguan THT


Cara Mencegah Dampak Sound Horeg pada Telinga

Paparan suara keras memang tidak selalu bisa dihindari, namun risikonya dapat dikurangi dengan langkah berikut:

  • Gunakan ear plug atau pelindung telinga (dapat meredam hingga 20–30 dB)
  • Jaga jarak aman dari sumber speaker
  • Batasi durasi berada di area dengan suara keras
  • Beri waktu istirahat bagi telinga setelah paparan kebisingan
  • Lakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala, terutama jika sering terpapar suara keras


Kapan Harus ke Dokter THT?

Segera konsultasikan ke dokter THT jika Anda mengalami:

  • Telinga berdenging terus-menerus
  • Pendengaran terasa berkurang
  • Nyeri atau rasa penuh di telinga setelah terpapar suara keras

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah gangguan pendengaran bertambah parah.


Sound horeg memang menjadi bagian dari hiburan masyarakat, namun paparan suara keras di atas batas aman dapat berdampak serius bagi kesehatan telinga. Gangguan pendengaran akibat kebisingan sering kali terjadi perlahan dan tidak disadari. Jika Anda mengalami keluhan pada telinga, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis THT di rumah sakit untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.


Jadwal Praktik Dokter Spesialis THT IHC RS Lavalette


Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. (2018). Environmental Noise Guidelines for the European Region. WHO.
  2. Saputra, I. H. (2025). Analisis Sound Horeg di Jawa Timur: Perspektif Hadis dan Implikasi Medis terhadap Kebisingan. Journal of Qur’an and Hadith Studies, 14(1).
  3. Fink, D. J. (2017). What Is a Safe Noise Level for the Public? American Journal of Public Health, 107(1).
  4. Nasution, M. (2019). Ambang Batas Kebisingan dan Dampaknya terhadap Kesehatan. Buletin Utama Teknik, 15(1).
  5. Riadie, S. A. (2020). Pengaruh Intensitas Kebisingan terhadap Gangguan Pendengaran. Universitas Islam Kalimantan.